Ada sebuah momen magis yang selalu dialami oleh setiap jemaah ketika pertama kali melangkah melewati gerbang Masjidil Haram. Saat pilar-pilar marmer itu terlewati dan pelataran Ka'bah mulai terlihat, waktu seolah kehilangan maknanya. Deru napas ribuan manusia, suara langkah kaki, dan kepenatan perjalanan seketika senyap di dalam kepala.
Bagi kami di Nuansa Rindu, momen menatap Ka'bah bukanlah sebuah atraksi pariwisata. Ia adalah cermin. Di hadapan bangunan kubus berwarna hitam legam yang begitu sederhana namun teramat megah itu, kita tidak sedang melihat bebatuan. Kita sedang melihat diri kita sendiri—menyadari betapa kecilnya eksistensi ini di hadapan Sang Maha Kuasa.
"Air mata yang jatuh di pelataran ini bukanlah tangis kesedihan, melainkan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang."
Inilah mengapa kami selalu merancang ritme perjalanan yang tenang saat pertama kali jemaah tiba di Makkah. Kami ingin Anda memiliki ruang yang cukup, fisik yang bugar, dan batin yang hening untuk meresapi detik-detik saat pandangan pertama itu berlabuh. Sebuah jeda yang akan mengubah cara Anda memandang kehidupan selamanya.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan kesan Anda.
Tinggalkan Pesan