Kota Madinah selalu memiliki cara tersendiri untuk memeluk siapa pun yang datang kepadanya. Jika Makkah terasa magis dengan pusaran energi Tawaf yang tiada henti, maka Madinah hadir sebagai pelabuhan yang tenang. Dan jantung dari ketenangan itu berada di sebuah taman kecil antara rumah dan mimbar Rasulullah ﷺ: Raudhah.

Menunggu giliran untuk masuk ke dalam area karpet hijau ini seringkali menguji kesabaran. Namun, di sanalah letak pembelajarannya. Dalam antrean panjang itu, kita diajarkan untuk merendahkan ego. Kita diajarkan bahwa untuk memasuki "Taman Surga", kita harus menanggalkan gelar, jabatan, dan ketergesa-gesaan.

Saat kening akhirnya menyentuh karpet tersebut dalam sujud yang panjang, ada keheningan yang sulit dijelaskan oleh kata-kata. Hiruk pikuk jemaah lain seolah memudar. Di titik itu, doa tidak lagi berisi daftar permintaan duniawi, melainkan sekadar rasa syukur karena telah diizinkan untuk bertamu.